December, 2007
Ada yang masih ingat filmnya „Legenda Ular Putih“? Kisah cinta dewi ular putih yang menjelma menjadi putri cantik jelita dengan seorang pemuda yang tragis tapi berakhir bahagia?
Berniat menikmati keindahan danau tempat legenda itu dilahirkan, pagi itu aku & Fon ke stasiun kereta berbekal tiket pp Shanghai – Hang Zhou yang sudah dipesan beberapa hari sebelumnya. Walau berbekal brosur dan tiket kesana, ternyata tidak menjamin kelancaran berkomunikasi dengan bapak tukang taxi. Padahal awalnya yakin banget, karena danau itu terkenal kan????
Untunglah, aku bawa HP yang ga kehilangan sinyal untuk nelpon temenku yang di Shanghai tapi asal Hang Zhou, sehingga setengah jam kemudian kita sudah didrop di pinggiran danau.
Kata temenku, di danau itu ada 2 pagoda yang terkenal. Yang gendut & yang langsing. Yang gendut itu tempat si Lady White Snake. Ada Bai di & ada Su di. Dan ada jembatan yang menghubungkan kedua ujung danau. Bisa jalan kaki, tapi lebih asik rental sepeda.
Hah! Berhubung hari itu cukup sejuk, kami jalan kaki mengelilingi danau & menikmati keindahan panorama. Sambil ditemani peta dan jagung rebus hitam yang hangat. Dari tempat taxi mendarat, sepertinya paling dekat ke pagoda langsing atau Baidi.... Jadilah kita jalan kaki ke sana.... kata Packy kan kita bisa keliling danau jalan atau naik sepeda....

Ternyata.... seperenam perjalanan, kita tempuh dalam waktu 3 jam!!! Walah!!!
Dan ternyata, si pagoda langsing itu bukan di pinggir danau, tapi musti nyebrang. Setelah nyebrang dan mendaki tangga, dan melewati kampung kecil ... ternyata itu baru sampai pintu gerbang. Dan masih ada tangga anak tanah yang mendaki menuju si pagoda langsing. Oh... ibuuu.... akhirnya kita menemukan kewarasan untuk turun dan nyebrang ke arah danau lagi menuju Bai Di.

Kata temenku, dari Bai Di itu, kita bisa nyebrang ke si Pagoda Gendut. Kita menikmati sekali hari itu.... berjalan di pinggiran danau, pohon hijau berayun2, anak2 kecil berlari2 membawa balon, remaja2 yang berombongan bersepeda ... cuacanya sejuk.... menyenangkan sekali....
Tapi ternyata, setelah 2 jam berjalan, ga ada tanda2 si Pagoda Gendut itu kelihatan. Oh la...laa.... Dan ternyata pula, jalan yang kita lewati itu memutar ke pinggiran danau di samping si Bai Di tadi.
Akhirnya, kita putuskan untuk naik taxi menuju si Pagoda Gendut.
Ternyata oh ternyata... memang jangan ditempuh dengan jalan kaki kalau cuma punya waktu sehari. Dan lain kali lebih baik dari stasiun kereta langsung saja ke Pagoda Gendut & Lady White Snakenya....
Sehingga tak perlu setengah berlari untuk menikmati sang Legenda dan masih punya waktu cukup untuk mencari souvenir di tempat yang katanya lebih murah dibanding Shanghai (aduh...sorry... aku lupa namanya).

Walaupun entah kenapa sang Tukang Taxi yang membawa kami berteriak-teriak sepanjang jalan (anggep aja begitulah cara orang sana bicara), kami ga ketinggalan kereta dan bisa mengenang perjalanan hari itu dengan bahagia.
Ada yang masih ingat filmnya „Legenda Ular Putih“? Kisah cinta dewi ular putih yang menjelma menjadi putri cantik jelita dengan seorang pemuda yang tragis tapi berakhir bahagia?
Berniat menikmati keindahan danau tempat legenda itu dilahirkan, pagi itu aku & Fon ke stasiun kereta berbekal tiket pp Shanghai – Hang Zhou yang sudah dipesan beberapa hari sebelumnya. Walau berbekal brosur dan tiket kesana, ternyata tidak menjamin kelancaran berkomunikasi dengan bapak tukang taxi. Padahal awalnya yakin banget, karena danau itu terkenal kan????
Untunglah, aku bawa HP yang ga kehilangan sinyal untuk nelpon temenku yang di Shanghai tapi asal Hang Zhou, sehingga setengah jam kemudian kita sudah didrop di pinggiran danau.
Kata temenku, di danau itu ada 2 pagoda yang terkenal. Yang gendut & yang langsing. Yang gendut itu tempat si Lady White Snake. Ada Bai di & ada Su di. Dan ada jembatan yang menghubungkan kedua ujung danau. Bisa jalan kaki, tapi lebih asik rental sepeda.
Hah! Berhubung hari itu cukup sejuk, kami jalan kaki mengelilingi danau & menikmati keindahan panorama. Sambil ditemani peta dan jagung rebus hitam yang hangat. Dari tempat taxi mendarat, sepertinya paling dekat ke pagoda langsing atau Baidi.... Jadilah kita jalan kaki ke sana.... kata Packy kan kita bisa keliling danau jalan atau naik sepeda....
Ternyata.... seperenam perjalanan, kita tempuh dalam waktu 3 jam!!! Walah!!!
Dan ternyata, si pagoda langsing itu bukan di pinggir danau, tapi musti nyebrang. Setelah nyebrang dan mendaki tangga, dan melewati kampung kecil ... ternyata itu baru sampai pintu gerbang. Dan masih ada tangga anak tanah yang mendaki menuju si pagoda langsing. Oh... ibuuu.... akhirnya kita menemukan kewarasan untuk turun dan nyebrang ke arah danau lagi menuju Bai Di.
Kata temenku, dari Bai Di itu, kita bisa nyebrang ke si Pagoda Gendut. Kita menikmati sekali hari itu.... berjalan di pinggiran danau, pohon hijau berayun2, anak2 kecil berlari2 membawa balon, remaja2 yang berombongan bersepeda ... cuacanya sejuk.... menyenangkan sekali....
Tapi ternyata, setelah 2 jam berjalan, ga ada tanda2 si Pagoda Gendut itu kelihatan. Oh la...laa.... Dan ternyata pula, jalan yang kita lewati itu memutar ke pinggiran danau di samping si Bai Di tadi.
Akhirnya, kita putuskan untuk naik taxi menuju si Pagoda Gendut.
Ternyata oh ternyata... memang jangan ditempuh dengan jalan kaki kalau cuma punya waktu sehari. Dan lain kali lebih baik dari stasiun kereta langsung saja ke Pagoda Gendut & Lady White Snakenya....
Sehingga tak perlu setengah berlari untuk menikmati sang Legenda dan masih punya waktu cukup untuk mencari souvenir di tempat yang katanya lebih murah dibanding Shanghai (aduh...sorry... aku lupa namanya).
Walaupun entah kenapa sang Tukang Taxi yang membawa kami berteriak-teriak sepanjang jalan (anggep aja begitulah cara orang sana bicara), kami ga ketinggalan kereta dan bisa mengenang perjalanan hari itu dengan bahagia.

No comments:
Post a Comment